Selasa, 09 Oktober 2012

Perahu Kertas

Diposting oleh Unknown di 06.47
Perahu Kertas 
 
 
setelah berhari-hari curi-curi waktu di tengah kepadatan aktifitas, akhirnya saya berhasil merampungkan membaca novel Perahu Kertas. banyak hal yang membuat saya terkesan dari novel ini.
konflik-konflik yang dihadirkan Dee dalam novel ini tidak seperti novel percintaan pada umumnya, plot yang rumit, emosi yang kian naik-turun kadang membuat saya meragukan bahwa kedua tokoh utama ini akan bersatu pada akhirnya.
mudah ditebak dari awal bahwa tokoh Keenan dan Kugy merupakan pasangan yang memiliki perasaan mendalam satu sama lain. namun yang membuat saya salut dengan cerita ini adalah konflik-konflik yang mereka hadapi bertahun-tahun.
bahkan saya sempat merasa tersindir dan tertampar dengan beberapa plot dalam novel ini. terlebih scene dimana Keenan dan Kugy bertemu kembali di acara pertunangan sahabatnya setelah mereka berpisah 4 tahun tanpa kabar. siapapun, kapan pun, dimana pun dapat mengalami scene seperti itu.
saya salut akan kepiawaian Dee dalam menghidupkan tokoh-tokohnya dalam tulisan. novel ini tidak sekedar mengisahkan tentang percintaan, namun lebih kepada impian, kehidupan, pengorbanan, takdir, dan kejutan dari Tuhan.
sangat recommended bagi kamu yang belum percaya bahwa hidup itu sudah disetting.
saat ini saya belum menonton film Perahu Kertas karya Hanung Bramantyo, karena film nya terbagi menjadi dua bagian. dan saya sedang menunggu bagian keduanya direlease jadi bisa sekalian ditonton. namun saya sudah mengintip trailer nya dan saya rasa ada banyak perbedaan yang dibuat Hanung. belum tahu apakah perbedaan itu berdampak positif atau negatif.
berikut beberapa plot dalam novel yang berkesan bagi saya:

halaman 310
Luhde menyandarkan kepalanya di dinding, memandangi pamannya yang dududk memunggunginya. sudah beberapa hari ini pamannya giat melukis. mungkin karena baterainya sempat terisi dengan kedatangan Keenan beberapa waktu lalu. sudah beberapa hari ini, Luhde malah tidak bisa tidur. hatinya resah. nyaris tidak pernah tenang. dan, sama seperti pamannya, itu pun disebabkan kedatangan Keenan.
“Poyan..”
“ada apa, De?”
“bagaimana kita bisa tahu kapan waktunya untuk menyerah, dan kapan waktunya untuk bertahan?”
mendengar pertanyaan Luhde, pak WAyan berbalik. “poyan juga tidak pernah tahu,” jawabnya lugas.
“dulu, poyan memutuskan untuk menyerah. membuarkan mamanya Keenan memilih orang lain. kapan poyan merasa bahwa itu keputusan yang tepat?”
“De, sejujurnya, apakah itu menyerah, atau justru bertahan..poyan tidak tahu. bahkan sampai hari ini. apakah ini menyerah namanya? barngkali betul begitu. tapi dalam apa yang disebut menyerah, poyan terus bertahan. poyan tidak tahu. tapi hidup yang tahu.”
Luhde menggigit bibirnya. ia ingin mengucapkan sesuatu, sekaligus gentar dengan reaksi pamannya nanti. namun, desakan itu sangat kuat. “poyan..jangan marah kalau saya ngomong begini, tapi..saya nggak mau jadi seperti poyan. atau seperti mamanya Keenan. sepuluh, dua puluh tahun dari hari ini, saya masih terus-terusan memikirkan orang yang sama. bingung di antara penyesalan dan penerimaan.”
wayan terdiam mendengar luncuran kalimat dari mulut keponakannya. ia seperti dicekoki senggenggam pil pahit sekaligus. getir, pedih, tapi ia merasakan kebenaran dalam kata-kata Luhde. “kamu benar. jangan jadi seperti poyan,” ujarnya lirih.
“tapi, bagaimana saya bisa memutuskan itu?” ratap Luhde.
“De, poyan percaya hidup ini sudah diatur. kita tinggal melangkah. sebingung dan sesakit apa pun, semua sudah disiapkan bagi kita. kamu tinggal merasakan saja,” wayan berkata lembut, “rasakan saja, De. kamu pasti tahu jawabannya. begitu juga dengan dia. tidak ada yang bisa memaksakan, apakah Keenan memang untuk kamu atau..untuk orang lain. pada akhirnya, tidak ada yang bisa memaksa. tidak juga janji, atau kesetiaan. tidak ada. sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamamu, hatinya tidak bisa dipaksa oleh apapun, oleh siapapun.”
halaman 413
air mata Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pandangannya kembali terang, meski langit sudah gelap dan Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan menjauh.
“Nan..”., panggilnya.
“ya?” Keenan berbalik.
“aku nggak kepingin, sepuluh..dua puluh tahun lagi dari sekarang, aku masih merasa sakit di sini tiap kali ingat kamu.” Kugy merapatkan tangannya di dada.
Keenan tercekat mendengarnya. “Nggak, Gy. Nggak akan. kalau saya bisa, kamu juga bisa.”
“dan kamu yakin bisa?” tangis Kugy.
“pasti..” suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, kebimbangan dan kegentaran.

halaman 430
“saya belajar dari kisah hidup seseorang. hati tidak pernah memilih. hati dipilih. jadi, kalau Keenan bilang, Keenan telah memilih saya, selamanya Keenan tidak pernah tulus mencintai saya. Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh,” Luhde menggenggam tangan Keenan sejenak, ” yang Keenan cari bukan disini.”
***
banyak hal yang membuat saya berpikir setelah membaca novel ini. bahwa sampai saat ini saya masih berpegang kepada cita-cita idealis saya. dan yang sangat menyedihkan, saya belum menemukan apa yang selama ini menjadi impian saya sebenarnya. seperti halnya dongeng bagi Kugy, dan lukisan bagi Keenan.
banyak hal yang sudah saya plot dan rencanakan dalam hidup saya. impian-impian idealis. namun, apakah itu yang benar-benar saya inginkan? ataukah itu hanyalah sesuatu yang saya ingin orang lain lihat dari saya? yang pasti, saya akan terus memegang impian-impian idealis itu, sampai suatu saat hidup akan menyadarkan dan meyakinkan saya bahwa itu yang saya inginkan atau bukan.

0 komentar:

Posting Komentar

 

Naftalita Ghaniyu Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos