Rabu, 10 Oktober 2012

AKU ADA (From : rectoverso)

Diposting oleh Unknown di 04.51 0 komentar



AKU ADA (From : rectoverso)


 Melukiskanmu saat senja
Memanggil namamu ke ujung dunia
Tiada yang lebih pilu
Tiada yang menjawabku selain hatiku
Dan ombak berderu

Selasa, 09 Oktober 2012

Perahu Kertas

Diposting oleh Unknown di 06.47 0 komentar
Perahu Kertas 
 
 
setelah berhari-hari curi-curi waktu di tengah kepadatan aktifitas, akhirnya saya berhasil merampungkan membaca novel Perahu Kertas. banyak hal yang membuat saya terkesan dari novel ini.
konflik-konflik yang dihadirkan Dee dalam novel ini tidak seperti novel percintaan pada umumnya, plot yang rumit, emosi yang kian naik-turun kadang membuat saya meragukan bahwa kedua tokoh utama ini akan bersatu pada akhirnya.
mudah ditebak dari awal bahwa tokoh Keenan dan Kugy merupakan pasangan yang memiliki perasaan mendalam satu sama lain. namun yang membuat saya salut dengan cerita ini adalah konflik-konflik yang mereka hadapi bertahun-tahun.
bahkan saya sempat merasa tersindir dan tertampar dengan beberapa plot dalam novel ini. terlebih scene dimana Keenan dan Kugy bertemu kembali di acara pertunangan sahabatnya setelah mereka berpisah 4 tahun tanpa kabar. siapapun, kapan pun, dimana pun dapat mengalami scene seperti itu.
saya salut akan kepiawaian Dee dalam menghidupkan tokoh-tokohnya dalam tulisan. novel ini tidak sekedar mengisahkan tentang percintaan, namun lebih kepada impian, kehidupan, pengorbanan, takdir, dan kejutan dari Tuhan.
sangat recommended bagi kamu yang belum percaya bahwa hidup itu sudah disetting.
saat ini saya belum menonton film Perahu Kertas karya Hanung Bramantyo, karena film nya terbagi menjadi dua bagian. dan saya sedang menunggu bagian keduanya direlease jadi bisa sekalian ditonton. namun saya sudah mengintip trailer nya dan saya rasa ada banyak perbedaan yang dibuat Hanung. belum tahu apakah perbedaan itu berdampak positif atau negatif.
berikut beberapa plot dalam novel yang berkesan bagi saya:

Manusia, Bukan Cuma “Mama”

Diposting oleh Unknown di 06.38 0 komentar
Manusia, Bukan Cuma “Mama”



Dua malam sebelum jadwal siaran rutinnya setiap Selasa pagi di Cosmopolitan FM, Reza mendiskusikan topik siarannya dengan saya. Dia ingin membahas dinamika relasi anak yang sudah dewasa dengan orangtuanya. Saya langsung setuju. Jatuh-bangun dan pahit-manis dinamika tersebut adalah masalah universal yang harus dihadapi oleh semua orang. Cepat atau lambat. Suka tak suka.

Kami lantas berdiskusi tentang banyak aspek, antara lain: pengondisian orangtua kita dulu yang akhirnya membentuk perilaku dan pola asuh mereka terhadap kita, hingga seringkali yang mereka terapkan bukanlah yang terbaik bagi anak melainkan sekadar meneruskan warisan dari orangtua mereka sebelumnya. Dan hal itu berlangsung dari generasi ke generasi, termasuk pada kita saat kebagian giliran jadi orangtua. Belum lagi kalau ternyata pola-pola tersebut meninggalkan trauma. Dalam pekerjaannya, Reza tak jarang menemukan belitan trauma akibat pola asuh masa kecil yang bisa mencengkeram seseorang meski umurnya sudah uzur.

Aspek lainnya lagi yang kami bahas adalah kejujuran yang utuh dan lengkap dalam komunikasi antara anak dan orangtua. Seringkali, karena takut dibilang durhaka, tekanan normatif, dsb, kita memilih untuk tidak terbuka seratus persen pada orangtua kita. Akibatnya, anak tetap tidak bisa menunjukkan otentisitasnya sebagai individu, dan orangtua pun terus ‘terperangkap’ dalam ilusi bahwa anaknya, mau berapa pun usianya sekarang, tetaplah Si Upik dan Si Buyung yang harus terus menerus diawasi dan dikendalikan.

Namun baru pada pagi inilah, saat saya mendengarkan siaran Reza secara langsung, mendarat hantaman yang juga langsung di batin saya. Pada segmen-segmen akhir, Reza berbicara mengenai transisi yang seringkali tak lancar—bahkan mungkin tak pernah terjadi—dalam perubahan peran “anak” dan peran “orangtua” menuju individu-individu yang real, sejajar, dan apa adanya. Kita jarang atau bahkan tak pernah mengenal orangtua kita sebagai manusia—titik—dan bukannya Sang Pemberi Kehidupan, Sang Pemberi Makan, Sang Pengayom, Sang Pelindung, atau Sang Pengasuh. Sebaliknya, orangtua kita pun jarang bahkan mungkin tak pernah mengenal anak-anaknya sebagai manusia—saja—dan bukannya Si Buah Hati, Si Penerus Keturunan, Si Harapan Bangsa & Keluarga, dst. Semua “Sang” dan “Si” tadi memang terdengar luhur dan mulia, tapi juga membius dan melenakan jika kita terus terjebak di dalamnya.

Izinkan saya berbagi sekelumit kisah pribadi. Tentang saya dan perempuan dalam foto di atas... Mama.

Diposting oleh Unknown di 06.09 0 komentar

Tahu Nggak, Inilah Jose Mujica Presiden Termiskin Di Dunia

Written By Mukti Effendi on Saturday, October 6, 2012 | 3:45 PM

Jose Mujica Presiden Termiskin Di Dunia Seorang presiden umumnya hidup enak dan nikmat dengan berbagai fasilitas dan kemudahan yang diberikan dan tentu saja gaji yang besar. Namun percaya atau tidak, hal berbeda didapatkan oleh presiden yang satu ini. Dia mendapat sebuah julukan dari rakyatnya sebagai 'presiden paling miskin di dunia'.
www.anehdidunia.com

Senin, 01 Oktober 2012

KOKOLOGI

Diposting oleh Unknown di 06.42 0 komentar
Udah pada tau kan yang namanya "KOKOLOGI"????
itu tuh... sebuah permainan dari jepang untuk mengetahui sifat dan kepribadian kita..
langsung saja mari kita bermain KOKOLOGI :)


******************************************************************************
******************************************************************************


PERTANYAAN 1
Suatu hari ada seekor burung berwarna biru tiba-tiba masuk ke rumah anda dan terperangkap didalamnya. anda pun berniat untuk memeliharanya. namun ada suatu keanehan yang terjadi pada burung tersebut.
Pada hari pertama warna burung tersebut berubah dari biru menjadi kuning
Pada hari kedua berubah lagi dari kuning menjadi merah terang.
hari ketiga berubah lagi menjadi hitam

coba pikirkan!!!
akan berubah menjadi warna apakah burung tersebut di hari berikutnya????
coba pilih salah satu :


 

Naftalita Ghaniyu Copyright © 2012 Design by Antonia Sundrani Vinte e poucos